Christ Living Church - Kogarah NSW Australia
Senior Leadership
 
Senior Pastor Agus Rahardja D Setyahardja

“His Story” in our lives


Pdt Agus Rahardja





Latar belakang


Ibu saya seorang Katolik yang tidak fanatik karena meskipun ke gereja, beliau juga masih ke kelenteng. Almarhum ayah saya penganut aliran kebatinan (kejawen). Jadi, meskipun sejak kecil saya dididik di sekolah Katolik dan sempat aktif menjadi anggota koor (choir), pelayan misa (misdinaar) dan juga Legio Maria, tapi sesungguhnya saya dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak memiliki dasar kerohanian yang mantap. Tidak heran bila akhirnya sampai usia 19 tahun saya bergaul dalam komunitas yang “keras” hingga suatu hari Tuhan menjamah saya pada 27 July 1977. Saya bertobat dan menerima Tuhan Yesus secara pribadi di suatu camp kerohanian yang diadakan oleh Universitas Kristen Petra Surabaya, Indonesia. Waktu itu saya menjadi mahasiswa Fakultas Teknik Sipil.

Hidup baru


Sejak itu saya hidup di dalam Yesus Kristus. Saya sangat bersyukur karena semasa “baby” rohani, saya sempat dimuridkan oleh Bapak Dr. Iman Santosa. Saya banyak belajar nilai-2 hidup Kristen yg Alkitabiah, Injili dan semangat pelayanan yang militant dari beliau. Komunitas hidup saya yang lama, yang penuh “kekerasan”, saya tinggalkan dan hidup baru dalam komunitas Kristen yang penuh kasih. Karakter saya diubahkan Tuhan, dan menjadi kesaksian yang baik di tengah-2 keluarga. Akhirnya, dua setengah tahun kemudian Tuhan menyelamatkan seluruh keluarga saya. Ayah, ibu dan adik-2 saya percaya kepada Tuhan Yesus. Janji Tuhan digenapi, karena Kisah Rasul 16:31 berkata: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu". Kalau Tuhan sudah menggenapi janjiNya pada saya dan keluarga saya, maka Tuhan Yesus yang sama, yang tidak berubah dulu sekarang dan selamanya, akan menggenapi janjiNya juga dalam hidup Anda. Kalau Anda percaya kepada Tuhan Yesus, maka Anda dan seluruh keluarga Anda akan diselamatkan.

Keluar dari komunitas Katolik


Waktu itu saya masih beribadah di gereja Katolik karena saya rindu membawa teman-2 segereja saya kepada Tuhan Yesus, karena saya tahu, sebagian besar dari mereka hidupnya persis seperti saya dulu, meskipun mengaku orang Katolik, namun itu hanya sebatas agama saja, dan  sesungguhnya mereka belum percaya kepada Tuhan Yesus. Kasih Tuhan yang membara di hati mendorong saya untuk bersaksi di antara teman-2 Katolik saya. Akhirnya banyak dari mereka menerima Tuhan Yesus secara pribadi, tetapi hal ini juga menjadi penyebab saya “disidang” oleh pemimpin gereja Katolik  karena dianggap mengganggu  “kesejahteraan” mereka. Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari komunitas gereja Katolik demi “kesejahteraan” mereka.

Vocal group Immanuel


Saya kemudian aktif di persekutuan kampus UK Petra yang banyak dilayani oleh mahasiwa PERKANTAS (Pesekutuan Kristen Antar Universitas). Keterlibatan saya dalam persekutuan kampus ini membuat saya punya kesempatan memimpin  sekelompok mahasiswa yang cinta Tuhan dan mendirikan vocal group Immanuel. Vocal group kami banyak diundang untuk melayani gereja-2 kota, tapi kami juga menginjil di desa-2. Ternyata vocal group kami dipakai Tuhan bukan hanya untuk mempersembahkan pujian bagi Tuhan, tapi jug menjadi team penginjilan di desa-2 yang penuh kuasa di tangan Tuhan. Banyak mujizat terjadi dalam pelayanan kami. Orang sakit kanker disembuhkan, orang yang hampir mati dipulihkan, yang kerasukan setan dilepaskan, orang lumpuh berjalan, orang bisu berkata-2, kuasa kegelapan dihancurkan, dukun-2 bertobat terima Yesus, dll.  

Tahun 1978 vocal group kami dipercaya melayani acara Mimbar Agama Kristen Protestan di Radio Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur. Musik dan firman Tuhan yang kami sampaikan tiap Minggu sore mendapat sambutan hangat dari para pendengar di seluruh Indonesia bahkan sampai ke luar negeri, a.l.: Filipina, Singapore, Malaysia, dll. Kami yakin Firman Tuhan yang telah kami sampaikan tidak pernah sia-2, sebagaimana Yesaya 55:11 berkata: “Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksana kan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya”. Meskipun ada “usaha-2” dari pihak-2 yang membenci keKristenan untuk menghentikan acara ini, namun Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Timur tetap mempertahankannya karena telah terbukti menjadi berkat bagi banyak orang. Pelayanan radio ini berlangsung selama 20 tahun hingga kami migrasi ke Australia tahun 1998.

Visi pelayanan desa yang efektif


Paskah tahun 1978, saya bersama teman-2 persekutuan kampus melayani satu gereja di desa Tosari, di pegunungan Tengger, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Sejak itu saya mulai jatuh cinta dengan pelayanan desa, meskipun saya juga aktif di pelayanan kampus. Kecintaan pada pelayanan desa membuka mata saya untuk melihat strategi pelayanan desa yang efektif, yaitu melalui visi Pengembangan Sumber Daya Alam dan Manusia. Visi ini kami terapkan dalam pelayanan desa selanjutnya di kawasan Bromo – Tengger - Semeru, suatu kawasan luas yang meliputi 4 kabupaten: Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Lumajang. Kami membagi kasih Kristus lewat cara-2 praktis yaitu membagi pengetahuan dan mengembangkan kesejahteraan masyarakat di bidang pertanian, perkebunan, peternakan, gisi, kesehatan, pembangunan sarana MCK (mandi-cuci-kakus), pengadaan air bersih, pengadaan pangan murah, pendidikan dan budaya, pelayanan medis, dll. Pelayanan seperti ini sangat efektif karena komunitas yang dilayani dapat merasakan manfaatnya secara langsung dalam hidup mereka sehari-hari. Prinsip pelayanan inilah yang sebenarnya diajarkan Tuhan Yesus dalam Mat.25:35,36,40 yang mengumpamakan diriNya sebagai raja yang berkata: “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku ”.

Dalam hal ini, kami hanya melakukan sesuatu yang dapat menjadi berkat bagi orang lain. Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik, sesuai motto pelayanan di Kolose 3:23,24 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah. Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya”. Karena itu, kemanapun kami “menginjil”, kami selalu diterima oleh masyarakat setempat karena mereka merasa diberkati oleh pelayanan kami. Dengan pengembangan sumber daya ini, komunitas yang dilayani langsung merasakan peningkatan kualitas hidup mereka secara signifikan, a.l.: penghasilan bertambah, kesehatan lebih baik, pertanian lebih modern, pengetahuan bertambah, dll. Meskipun sasaran akhirnya  adalah jiwa-2 bagi Kristus, tapi orientasi pelayanan kami bukan penginjilan secara theologis, tapi praktis dan kontekstual, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang kita layani. Dalam istilah business, hal ini disebut “market-oriented”, bukan “product-oriented”. Kalau kita dapat diterima oleh komunitas yang dilayani, menjadi sahabat mereka, maka pada akhirnya kita pasti dapat membawa jiwa-2 mereka kepada Kristus, dan “the mission is completed”.

Puji Tuhan, strategi ini berhasil, puluhan desa yang sebelumnya sangat “tertutup” untuk Injil dapat “terbuka”. Banyak jiwa dimenangkan. Banyak pos PI (Pekabaran Injil) dibangun. Beberapa gereja didirikan tanpa halangan apapun, sebab kebanyakan para petinggi desa yang terima Yesus tidak segan-2 memberikan rumahnya atau tempat-2 strategis di desa mereka untuk dipakai sebagai tempat ibadah. Hal ini malah menjadi kebanggaan bagi mereka, karena dapat memberikan yang paling berharga kepada Tuhan. Kalau suatu ketika kita menjumpai di desa-2 ada gereja yang letaknya berdekatan atau berdampingan dengan tempat ibadah lain, maka kita dapat menduga “sejarah”nya.  

Tantangan dari “luar” dan “dalam”


Meskipun demikian, usaha membagi Kasih dan menjangkau jiwa-2 bagi Kristus di desa-2 ini tidak selalu berjalan mulus. Ada pihak-2 yang anti Kristus merasa “terusik” dengan pelayanan kami sehingga kami harus mengalami banyak tantangan. Kami pernah dipanggil, diinterogasi, dimintai pertanggungan jawab dan diintimidasi oleh oknum-2 pemerintah daerah dan yang berwajib. Rekan pelayanan kami pernah dipukul dan dianiaya oleh oknum polisi. Saya sendiri pernah “disidang” oleh oknum-2 Majelis Ulama Indonesia karena urusan ijin mengadakan retreat di suatu tempat di Jawa Timur. Kami pernah mengalami usaha pembunuhan sebanyak enam kali oleh pihak-2 radikal yang anti Kristus dan tidak bertanggung jawab, namun Tuhan selalu melindungi kami dan meluputkan kami dari segala yang jahat.  

Karena panggilan pelayanan kami bukan menjadi gembala jemaat, maka kami selalu menawarkan follow up pelayanan di desa-2 tsb ke beberapa gereja. Yang mengejutkan, ternyata tidak semua gereja punya beban atau siap untuk “church planting” di desa-2. Banyak Sarjana Theology lulusan sekolah Alkitab ternyata hanya mau melayani di tempat-2 “basah” di kota-2 besar, dan tidak mau melayani di tempat-2 “kering” di desa-2. Kami sering mendengar alasan klasik seperti: “Maaf kami sibuk dengan pelayanan kami sendiri”, atau “Kami tidak punya orang”, dll. Ironisnya, mereka berkata : “Kami ingin menjangkau jiwa bagi Kristus”, atau “Kami punya beban untuk pelayanan desa karena 70 % populasi Indonesia tinggal di desa”, dll.

Kesulitan pelayanan di desa ternyata lebih besar dibandingkan dengan pelayanan di kota. Seharusnya gereja-2 dan para hamba Tuhan itu sadar, bahwa kalau mereka mau menjangkau jiwa orang Indonesia bagi Kristus, mereka tidak boleh menutup mata terhadap pelayanan desa.  Kesulitan terbesar yang ada di pelayanan desa justru membutuhkan sumber daya terbaik yang dimiliki oleh gereja. Karena itu, sementara belum ada gereja yang mau follow up pelayanan yang telah kami rintis, mau tidak mau kami harus melayaninya sendiri. Baru ketika ada gereja-2 yang mau “bayar harga” untuk follow up pelayanan kami, baru kami serahkan pelayanan selanjutnya kepada mereka. Setelah itu kami melanjutkan pelayanan di desa-2 lain, yang dibuka Tuhan secara ajaib.

Kami sangat kekurangan sumber daya manusia, sebab di satu sisi kami masih harus belajar dan mengerjakan tanggung jawab sebagai mahasiswa, tetapi di sisi lain kami harus bertanggung jawab terhadap jiwa-2 yang dimenangkan dalam penginjilan kami. Kami harus berhasil dalam study, tetapi kami juga tidak mau menelantarkan jiwa-2 yang telah dijangkau dalam pelayanan kami. Kami tidak mau menjadi batu sandungan karena tidak bertanggung jawab dalam study, sebab banyak mahasiswa Kristen yang menggunakan alasan pelayanan mereka sebagai “kambing hitam” untuk melegitimasi kegagalan study mereka. Kami percaya bahwa study kami juga adalah pelayanan dan tanggung jawab yang harus dikerjakan sebaik-baiknya untuk memuliakan Tuhan. Kami tidak mau membawa jiwa-2 bagi Kristus tanpa bertanggung jawab terhadap study yang sudah lebih dulu dibawa Kristus untuk kami.

Penolong yang sepadan


Tuhan tahu bahwa saya perlu penolong yang sepadan untuk menggenapi panggilan pelayanan ini, sehingga Dia memberikan Mena untuk saya. Mena adalah saksi mata kehidupan saya sebelum dan sesudah menerima Yesus secara pribadi, sebab dia ada di acara camp kerohanian tahun 1977 ketika Tuhan menjamah saya. Kami menikah tahun 1982. Dua tahun kemudian Mena lulus Sarjana (S1) bergelar Ir. Arsitektur, dan setahun kemudian, meskipun dengan susah payah membagi waktu untuk kuliah, pelayanan, dan bekerja mencari nafkah bagi keluarga, akhirnya berkat fanugerah Tuhan, saya lulus Sarjana (S1) dengan gelar Ir. Teknik Sipil.

Study lanjut


Untuk melengkapi panggilan pelayanan saya, tahun 2002 saya mengambil study S2 di bidang theology di Indonesian Mission Institute Sydney dan berhasil menyelesaikannya dengan gelar MA Mis. (Master of Art in Missiology). Thesis saya waktu itu adalah Gereja Rumah yang terintegrasi dengan gereja induknya. Ide thesis ini berasal dari kebutuhan pos PI (Pekabaran Injil) di daerah-2 yang “keras”, yang tidak memungkinkan untuk didirikan gereja. Sehingga dibutuhkan suatu “gereja rumah” (yang melakukan kebaktiannya di rumah-2 jemaat secara tidak mencolok) yang harus didukung oleh gereja “induk” atau gereja yang sudah lebih dulu eksis, khususnya untuk melakukan : baptisan, perjamuan kudus, perkawinan, pemakaman, dll.   

Disamping itu, mengingat tanggung jawab saya sebagai Gembala Sidang yang suatu saat harus  memimpin upacara pernikahan jemaat, maka saya juga mengambil study Marriage Celebrant course dari Academy of Celebrancy Australia, suatu lembaga “professional celebrant education and services” yang berakreditasi. Saya berhasil lulus dengan baik, dan saat ini sedang menunggu kesempatan untuk mendapat license sebagai registered Marriage Celebrant di Australia.

Keluarga, pekerjaan dan visi makin berkembang


Suatu pagi, sekitar tahun 1980, ketika saya minum kopi di villa nenek kami di Prigen, Jawa Timur, tiba-2 saya melihat gambar  seperti “peta Indonesia” di air kopi di cangkir saya. Tidak lama kemudian gambar itu berubah menjadi “peta dunia”. Waktu itu, saya tidak mengerti maksud Tuhan yang memberikan “penglihatan” seperti itu, tapi saya menyimpannya di dalam hati.

Tahun 1984 anak pertama kami, Arif lahir. Kemudian berturut-turut tahun 1985 dan 1986 anak kedua Dian dan anak ke tiga Ratna lahir. Terakhir tahun 1990, ketika saya pulang dari pelayanan ke Irian Jaya dan pedalaman Wamena, anak ke empat kami, Ratih lahir.  Ketika itu, saya masih bekerja sebagai professional di bidang kontraktor dan property development. Tapi di akhir minggu saya selalu gunakan untuk melayani Tuhan. Saya memandang pekerjaan adalah pelayanan juga, karena itu harus dipertanggung jawabkan kepada Tuhan juga. Puji Tuhan, Ia sangat memberkati pekerjaan saya dan membuatnya berhasil. Banyak mujizat terjadi dalam pekerjaan saya, sebagai bukti Tuhan campur tangan di dalamnya. Perusahaan dimana saya bekerja makin berkembang, makin besar dan makin  diberkati Tuhan. Meskipun kesibukan pekerjaan saya bertambah, tapi prioritas pelayanan saya tidak berkurang. Tuhan malah makin memperluas jangkauan pelayanan saya. Perumpamaan Tuhan Yesus tentang talenta di Mat.25:21 digenapi : “Engkau telah setia dalam perkara kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar”.  Kami mulai membentuk jaringan koordinasi pelayanan di daerah-2, misalnya KOPER (Koordinasi Pelayanan Tengger), KOLAM (Koordinasi Pelayanan Madiun), dsb. Makin banyak orang diilhami oleh pelayanan kami dan bersedia terlibat atau mendukung pelayanan. Puji Tuhan.

Keberhasilan strategi pelayanan desa melalui visi pengembangan sumber daya alam dan manusia yang kami lakukan di desa-2 rupanya menarik perhatian banyak orang, khususnya di kalangan orang Kristen. Saya diminta untuk menyampaikan visi ini di beberapa seminar LOKASI BATU DESA (Lokakarya dan Konsultasi Hamba Tuhan Desa) yang diadakan di berbagai kota di Indonesia, a.l.: Surabaya, Madiun, Solo, Yogya, Semarang, Cirebon, Pandeglang, Bandung, Jakarta, Menado, Ambon, Jayapura, Wamena, Makasar, dll.

Tahun 1986, ketika saya membagikan visi pelayanan desa di Tulungagung, Jawa Timur, Tuhan melawat dan memperbarui wawasan pelayanan 350 hamba Tuhan secara luar biasa dan radikal. Mereka adalah para penginjil dan pendeta yang melayani di desa-2 di Jawa Timur. Mereka dilawat Roh Kudus dan dilepaskan dari belenggu-2 pikiran dan pelayanan yang mengikat mereka, sehingga sejak itu pelayanan mereka diubahkan menjadi lebih efektif dalam membawa jiwa-2 kepada Kristus. Gaung atau gema lawatan Tuhan di Tulungagung ini terus berlangsung dan menarik banyak orang, bukan hanya dari kalangan Kristen saja, tapi dari kalangan non Kristen juga. Seringkali saya harus menghadapi diskusi “berat” menyangkut hal-2 theologis dan perbandingan agama dengan pihak-2 non Kristen, tapi Tuhan selalu memberikan karunia hikmatNya sehingga saya tidak terjebak dalam “perdebatan yang sia-2” tapi sebaliknya, mampu membagikan kebenaran Injil yang tidak dapat dibantah oleh hikmat manusia. Tidak jarang pihak-2 “non Kristen” tsb pada akhirnya malah minta didoakan secara Kristen.

Pembentukan PESAT


Pada tahun yang sama, beberapa bulan kemudian, saya diminta membagikan visi yang efektif ini di pertemuan para hamba Tuhan di Ungaran, Jawa Tengah. Dalam pertemuan ini akhirnya disusun strategi pelayanan desa terpadu untuk seluruh Indonesia. Karena tingkat kesulitan pelayanan desa cukup tinggi, maka pelayanan desa harus dikerjakan secara terpadu oleh berbagai potensi Tubuh Kristus sesuai talenta dan karuniaNya masing-2.  Melalui kerja sama beberapa hamba Tuhan dengan para professional, pengusaha, sarjana, mahasiswa, karyawan, dll, akhirnya terbentuklah visi PESAT (Pelayanan Desa Terpadu), yaitu membangun satu Bible Training Centre di tiap propinsi yang akan berfungsi sebagai pusat penginjilan dan sekaligus pusat pengembangan sumber daya alam dan manusia di propinsi tsb. Hingga saat ini, pelayanan PESAT sudah tersebar di 24 propinsi di Indonesia. Saya baru mengerti maksud Tuhan yang memberikan lukisan peta Indonesia di air kopi saya. Rupanya Tuhan mau supaya saya melayani di seluruh Indonesia.

Pelayanan di luar negeri dan migrasi ke Australia


Tahun 1988 saya diundang untuk menjadi pembicara di camp kerohanian mahasiswa Kristen Indonesia seluruh Eropa di Trier, Jerman. Kemudian saya diminta melayani di Frankfurt , Mainz, dan Hamburg, Jerman. Juga di Den Haag dan Amsterdam, Belanda.  Saya diminta membagikan visi yang sama untuk memotivasi para mahasiswa Kristen Indonesia yang study di luar negeri agar mau pulang kembali ke Indonesia setelah study mereka selesai sehingga dapat menjadi berkat bagi Indonesia. Tahun 1990 saya diundang melayani retreat di Melbourne, Australia. Sejak itu saya banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, lebih dari 10 negara di 4 benua. Tahun 1996 saya diminta menjadi pembicara retreat para hamba Tuhan dari gereja-2 Indonesia seluruh Australia di Perth. Ketika itu juga Tuhan berbicara kepada saya untuk mempersiapkan diri migrasi ke Australia. Kami sekeluarga taat atas panggilan ini dan mempersiapkan diri selama 2 tahun. Pada tahun 1998 saya dan Mena migrasi ke Australia, dan January 1999 anak-2 kami menyusul. Saya baru mengerti maksud Tuhan memberikan lukisan peta dunia di air kopi saya.Rupanya Tuhan mau supaya saya bukan hanya melayani Indonesia saja, tapi juga seluruh dunia.

Sekolah Alkitab “Pondok Karya Tengger”


 Pelayanan desa yang kami lakukan makin luas. Kebutuhan sumber daya manusia makin bertambah, tetapi orang yang mau dan mampu melayani desa sangat sedikit, tidak sebanding dengan percepatan kebutuhannya. Akhirnya pada tahun 1994, saya bersama teman-2 pelayanan mengambil keputusan untuk mendirikan Sekolah Alkitab dengan nama Pondok Karya Tengger (PKT) di desa Nongkojajar, kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kami memilih Nongkojajar karena daerah ini termasuk kawasan Tengger yang masih “terbuka” untuk Injil dan juga telah memiliki sarana-2 pelayanan yang cukup strategis, yang telah dirintis oleh para pendahulu pelayanan di Tengger, a.l. : beberapa gereja dan jemaat Kristen, panti asuhan Kristen, sekolah-2 Kristen (SMP dan SMA), tempat retreat Kristen, tempat retreat Katolik, dll.

PKT adalah Sekolah Alkitab atau Bible TC (Training Centre) yang sengaja direncanakan untuk “mencetak” para penginjil lapangan yang siap diterjunkan di ladang misi. Mereka digembleng selama 2 tahun bukan hanya untuk dapat berkhotbah dan melayani di gereja seperti kebanyakan Sekolah Alkitab pada umumnya, tapi mampu membuka ladang-2 misi yang masih “tertutup” di daerah-2 yang tak terjangkau oleh pelayanan gereja. Di PKT ini para calon penginjil dididik dengan porsi theology 50 % dan keterampilan praktis 50 %, a.l.: computer, pertanian, menjahit dan tata busana, tat arias rambut dan wajah, tata rias pengantin, perkebunan, peternakan, musik, kerajinan tangan, automotive dan teknik mesin, teknik bangunan, merangkai bunga, seni budaya rakyat (gamelan, ketoprak, ludruk), seni tari daerah dan kontemporer, dll. Mereka dibekali untuk menerobos ladang-2 misi yang masih “tertutup” itu dengan cara menjadi berkat bagi masyarakat setempat melalui keterampilan praktisnya dulu, yaitu mengembangkan potensi sumber daya alam dan manusia di daerah tsb, baru kemudian menyusul berita penginjilan yang sesungguhnya. Hal ini disebut sebagai Penginjilan Kontekstual, yaitu penginjilan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi masyarakat yang dilayani. Demikian juga nama “umum” Pondok Karya Tengger digunakan supaya tidak menimbulkan “kesenjangan” agama, sosial dan budaya yang dapat menghalangi proses penginjilan.

Di samping berfungsi sebagai pencetak kader penginjil lapangan yang militant, PKT juga berfungsi sebagai pusat penggerak masyarakat desa untuk mengembangkan potensi sumber daya alam dan manusianya demi pembangunan desa itu sendiri. Tidak heran bila akhirnya desa Nongkojajar memiliki paduan suara yang berhasil menjadi juara di tingkat propinsi. Desa ini juga memiliki ratusan penari kolosal yang siap pentas dalam perayaan-2 nasional, baik di tingkat lokal maupun di tingkat pemerintah daerah yang lebih luas. Nongkojajar juga berhasil membangun jalan desa dan masjid dengan swadaya masyarakat. Penduduk yang selama puluhan tahun bercocok tanam apel, kubis, kentang, dan wortel, berhasil membudi-dayakan perkebunan strawberry dan tanaman-2 lain yang memiliki nilai jual yang lebih mahal. Dengan demikian, pengangguran berkurang, pembangunan maju, kesejahteraan meningkat. Karena jasanya membangun desa inilah, akhirnya PKT yang kemudian berganti nama PEKAN (Pelayanan Kasih Anak Bangsa) mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah Tingkat 1 Jawa Timur.  Saat ini PEKAN berhasil mengembangkan pelayanannya di Soe (Nusa Tenggara Timur), Makasar (Sulawesi Selatan) dan Menado (Sulawesi Utara).

Pelayanan di Australia - Gembala Sidang CHRIST LIVING CHURCH


Sejak migrasi ke Australia, kami sekeluarga pernah melayani di dua gereja Indonesia. Banyak pengalaman “berharga” yang diperoleh dalam pelayanan ini. Sejak 18 June 2006 ini saya dipercaya Tuhan memimpin Christ Living Church (CLC) sebagai Gembala Sidang. CLC adalah gereja multi-kultur yang sangat diberkati TUhan. Saya sangat bangga melihat karya Tuhan di dalam CLC. Motto : Church of Love and Compassion bukan hanya slogan, tapi dilakukan dengan sungguh-2, sehingga setiap orang yang masuk dalam komunitas CLC dapat merasakan kehangatan kasih dan kekeluargaan yang erat.

Jemaat kompak dan menjaga persatuan Tubuh Kristus dengan pola pikir positive yang terus dikembangkan tanpa basa basi. Jemaat bersekutu dalam keterbukaan yang tulus ikhlas dan lingkungan yang “bebas gossip”, aman, saling melindungi, saling mengasihi, saling melayani serta saling melengkapi kekurangan satu sama lain.

System pengelolaan gereja dilakukan secara manajemen terbuka, sehingga setiap jemaat dapat melihat posisi keuangan, data-2 pelayanan, data-2 inventaris gereja setiap waktu. Uang bukan manjadi hal utama, tetapi pelayanan menjangkau jiwa diprioritaskan sebagai sasaran utama CLC.

Demokrasi kepemimpinan, musyawarah dan mufakat dalam pengambilan keputusan dilakukan secara terpimpin dan penuh penundukan diri serta saling menghargai. Manajemen gereja dibuat sesederhana mungkin. Rapat-2 gereja didominasi dengan diskusi untuk kemajuan pelayanan. Diskusi, informasi dan pengambilan keputusan dalam hal keuangan (yang umumnya menyita waktu dalam rapat-2 gereja) di CLC malah dilakukan lewat email yang cepat dan praktis.

Sekitar 40 % dari jemaat terlibat dalam pelayanan. Mereka mengerjakan pelayanannya dengan sukacita dan professional sesuai panggilan, talenta dan karuniaNya masing-2. Kualitas pelayanan terus ditingkatkan dengan menghargai setiap evaluasi, koreksi, kritik, masukan, saran dan pendapat yang dilakukan secara terbuka dengan tujuan membangun dan dengan motivasi mengasihi satu sama lain.

Akibatnya, kuasa Allah bekerja dengan leluasa sehingga banyak mujizat terjadi. Jemaat dilawat Tuhan sehingga berkobar-kobar mengasihi dan melayani Tuhan, mulai dari anak-2, anak muda sampai orang dewasa. Sejak anak-2 sudah ditanamkan di dalam diri mereka, bahwa mereka adalah “anak super” karena Tuhan punya rencana “luar biasa” dalam hidup anak-2Nya. Tuhan yang kami sembah “luar biasa”, sehingga kami tidak pernah percaya kalau anak-2Nya jadi orang “biasa-2” saja. Anak-2 Tuhan pasti jadi orang “luar biasa”, penuh semangat, penuh kuasa, berlimpah berkat, sukses dalam segala hal dan diurapi Tuhan.

Meskipun saat ini jumlah jemaat CLC masih relative “kecil”, namun CLC di rencanakan untuk menjadi gereja “besar”, baik dalam kualitas maupun kuantitasnya. Karena itu manajemen pelayanan dan kepemimpinan CLC dipersiapkan sebagai gereja besar. Kami yakin bahwa ALLAH yang kami sembah adalah Allah yang besar, baik kuasaNya maupun pekerjaanNya. Karena itu, gerejaNya juga pasti “besar”, baik wawasan (visi, misi, paradigma, sikap dalam pelayanan), perbuatan (tanggung jawab, fungsi, peran, impact dalam pelayanan), dan buahNya (jiwa-2 yang diselamatkan, yang mengasihi, memuliakan dan melayani Tuhan).

Jemaat CLC dilayani dan dipimpin dengan sebaik-baiknya, sehingga mereka bertumbuh sesuai dengan panggilan Tuhan yang tertinggi dalam hidupnya. Jemaat CLC dimuridkan, diajar, dilatih dan diperlengkapi untuk melayani Tuhan dalam kesatuan Tubuh Kristus untuk membawa jiwa-2 bagiNya.  Saya sangat berterima kasih kepada Tuhan, keluarga saya dan seluruh jemaat CLC yang mendukung dan mendoakan pelayanan saya serta bekerja sama dengan baik sehingga CLC mampu berfungsi sebagai gereja Tuhan yang efektif dan misioner. Penjangkauan jiwa-2 bagi Kristus bukan hanya dilakukan CLC secara langsung di Australia, tapi juga secara tidak langsung dengan mendukung pelayanan dua gereja di Tengger dan Bali, Indonesia. CLC juga peduli dengan kebutuhan pendidikan generasi muda, sehingga  memberikan bea siswa kepada 9 orang anak asuh di Bali, Indonesia.

Karena itu saya menyerahkan hidup saya sekeluarga dan seluruh jemaat CLC kepada Tuhan supaya terus dipakai sebagai alat yang harmonis untuk kemuliaanNya. Segala puji hormat syukur hanya bagi Tuhan Yesus Kristus, karena Dia telah menuliskan “His Story” yang indah dan luar biasa dalam hidup saya sekeluarga dan seluruh jemaat CLC.


Tuhan memberkati kita semua, amin.

Sydney, 14 March 2009

Karena anugerahNya,

Agus Rahardja D. Setyahardja   
Gembala Sidang Christ Living Church