Christ Living Church - Kogarah NSW Australia
Church Sunday Service Live Broadcast
Church Sunday Service Live Broadcast
 
Leadership System

Kepemimpinan CLC dilakukan dalam atmosfir kekeluargaan. CLC dipimpin oleh Senior Pastor dan dibantu oleh para Elders (Penatua Jemaat) dan Diaken / Diakones. Para Elders membantu Senior Pastor di bidang “pemerintahan” gereja, sedangkan para Diaken / Diakones membantu di bidang manajemen gereja. Senior Pastor, para Elders dan Diaken / Diakones bekerja sama dalam melakukan tugas dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan jemaatNya.

Kepemimpinan adalah fungsi, bukan posisi. Tidak ada satupun fungsi pelayanan di gereja yang tidak penting, semuanya penting, karena pada dasarnya setiap fungsi saling melengkapi fungsi yang lain. Karena itu konsep kepemimpinan CLC menitik beratkan pada tanggung jawab dan kewajiban, lebih dari sekedar posisi, hak, dan otoritas. Sesungguhnya, di Gereja tidak ada posisi kepemimpinan yang lebih tinggi atau lebih rendah, yang ada ialah peranan kepemimpinan yang diukur dari makin banyak atau makin sedikitnya fungsi pelayanannya. Struktur organisasi Gereja tidak boleh “dibaca” vertikal untuk melihat tinggi rendahnya “posisi” kepemimpinan, tetapi harus dibaca “radial” dari pusat lingkaran ke luar, untuk menunjukkan besar kecilnya tangung jawab dan fungsi kepemimpinan. Ilustrasi di bawah ini akan menolong penjelasan akan hal ini.

Sistim Kepemimpinan

Ketika suatu hari timbul pertengkaran di antara murid-muridNya tentang siapa yang “terbesar”, maka Tuhan Yesus berkata di Lukas 9:48b “Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”. Selanjutnya masih dalam konteks yang sama Dia berkata di Lukas 22:26 “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan”. Tuhan Yesus mengajarkan pada kita tentang hakekat kepemimpinan yang sejati, yaitu : kerendahan hati. Makin banyak tanggung jawab dan peranan kepemimpinan kita, maka kita harus makin rendah hati, makin merasa “kecil” dan makin memiliki sikap seorang hamba yang berorientasi pada kerelaan melayani, bukan minta dilayani.

Dengan demikian, kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak orang yang “merasa” mampu jadi pemimpin, belum tentu mampu berfungsi sebagai pemimpin yang baik. Kepemimpinan harus melalui proses pembentukan karakter, sikap dan pola pikir seorang “hamba”. Disamping itu, kepemimpinan juga membutuhkan keterampilan, sehingga perlu training kepemimpinan untuk melengkapi, melatih keterampilan, dan menyiapkan jenjang kepemimpinan.