Kepemimpinan CLC
dilakukan dalam atmosfir kekeluargaan. CLC dipimpin oleh Senior Pastor
dan dibantu oleh para Elders (Penatua Jemaat) dan Diaken / Diakones.
Para Elders membantu Senior Pastor di bidang “pemerintahan” gereja,
sedangkan para Diaken / Diakones membantu di bidang manajemen gereja.
Senior Pastor, para Elders dan Diaken / Diakones bekerja sama dalam
melakukan tugas dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan jemaatNya.
Kepemimpinan adalah fungsi, bukan posisi. Tidak ada satupun fungsi
pelayanan di gereja yang tidak penting, semuanya penting, karena pada
dasarnya setiap fungsi saling melengkapi fungsi yang lain. Karena itu
konsep kepemimpinan CLC menitik beratkan pada tanggung jawab dan
kewajiban, lebih dari sekedar posisi, hak, dan otoritas. Sesungguhnya,
di Gereja tidak ada posisi kepemimpinan yang lebih tinggi atau lebih
rendah, yang ada ialah peranan kepemimpinan yang diukur dari makin
banyak atau makin sedikitnya fungsi pelayanannya. Struktur organisasi
Gereja tidak boleh “dibaca” vertikal untuk melihat tinggi rendahnya
“posisi” kepemimpinan, tetapi harus dibaca “radial” dari pusat
lingkaran ke luar, untuk menunjukkan besar kecilnya tangung jawab dan
fungsi kepemimpinan. Ilustrasi di bawah ini akan menolong penjelasan
akan hal ini.

Ketika suatu hari timbul pertengkaran di antara murid-muridNya
tentang siapa yang “terbesar”, maka Tuhan Yesus berkata di Lukas 9:48b
“Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar”.
Selanjutnya masih dalam konteks yang sama Dia berkata di Lukas 22:26
“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu
hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai
pelayan”. Tuhan Yesus mengajarkan pada kita tentang hakekat
kepemimpinan yang sejati, yaitu : kerendahan hati. Makin banyak
tanggung jawab dan peranan kepemimpinan kita, maka kita harus makin
rendah hati, makin merasa “kecil” dan makin memiliki sikap seorang
hamba yang berorientasi pada kerelaan melayani, bukan minta dilayani.
Dengan demikian, kepemimpinan bukanlah suatu hal yang mudah untuk
dilakukan. Banyak orang yang “merasa” mampu jadi pemimpin, belum tentu
mampu berfungsi sebagai pemimpin yang baik. Kepemimpinan harus melalui
proses pembentukan karakter, sikap dan pola pikir seorang “hamba”.
Disamping itu, kepemimpinan juga membutuhkan keterampilan, sehingga
perlu training kepemimpinan untuk melengkapi, melatih keterampilan, dan
menyiapkan jenjang kepemimpinan.