Secara umum, Gereja
Tuhan (orang-orang yang percaya Kristus), mengemban dua tanggung jawab
utama, yaitu PERINTAH AGUNG (Markus 12:30,31) dan AMANAT AGUNG (Matius
28:19,20) Kristus.
Perintah Agung di Markus 12:30,31 tertulis sbb: “Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan
dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini."
Perintah Agung ini mengingatkan Gereja tentang eksistensinya, yaitu melayani Tuhan dan sesama manusia berdasarkan Kasih.
Kasih adalah motivasi tertinggi Gereja dalam mengerjakan pelayanannya,
menjaga keutuhan dan kesatuan Tubuh Kristus serta menyelesaikan
masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan bergereja. Kasih pasti
menemukan solusi yang positif dalam setiap masalah dan menjamin
penyelesaiannya secara tuntas dan damai. Bila Kasih dalam Gereja pudar,
maka Gereja sesungguhnya telah kehilangan jati diriNya dan tidak lebih
dari organisasi sosial biasa.
Pelanggaran prinsip Kasih
dalam bentuk apapun akan membuat Gereja “mati selagi hidup”. Sang
jenius Einstein mengakui bahwa “mati selagi hidup” adalah hal yang
paling mengerikan, sehingga kita harus mencegahnya dengan cara tinggal
dalam Kasih Allah dan memelihara KasihNya agar tetap hangat dan membara
baik dalam ibadah kepada Tuhan maupun dalam membina hubungan dengan
sesama manusia. Perintah Agung ini adalah barometer
hubungan pribadi dengan Tuhan dan sesama. Tuhan mengingatkan jemaat di
Korintus dan Efesus, bahwa tanpa Kasih semua prestasi Gereja akan
sia-sia (1 Korintus 13:1-3; Wahyu 2:1-7).
Kasih memurnikan
Gereja dari praktek-praktek politik dalam Gereja, fitnah, materialisme,
gossip, iri hati, kebencian, dan lain-lain. Kasih memungkinkan Gereja
bertumbuh dalam atmosfir sukacita dan damai sejahtera yang sehat,
dinamis, dan supra natural, sehingga pertumbuhannya tak terbatas,
hadirat Tuhan nyata, ibadah dan pelayanannya penuh mujizat.
Amanat Agung tercatat di Mat.28:19,20 sbb: “Karena
itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka
dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan
segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku
menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Amanat Agung menetapkan sasaran akhir untuk setiap kegiatan Gereja, yaitu jiwa-jiwa terhilang diselamatkan. Makin tinggi sasaran jiwa yang ditetapkan, makin tinggi pula “harga” yang harus dibayar untuk mencapainya. Tanpa penetapan sasaran jiwa, Gereja akan terjebak pada rutinitas kegiatan sehari-hari, sehingga tanpa sadar kegiatan menjadi sasaran pelayanannya.
Gereja
yang demikian akan tetap berjalan dengan kegiatan rutinnya, tetap
dengan slogan “selamatkan jiwa”, tapi tidak misioner. Tetap eksis, tapi
tidak berfungsi sebagai kepanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan
jiwa-jiwa terhilang. Gereja yang tidak misioner, akan mudah terseret
pada jerat materialisme dan kecenderungan membangun kerajaannya sendiri
(yang seharusnya membangun Kerajaan Allah). Gereja yang demikian telah
menyia-nyiakan Karya Keselamatan Kristus bagi dunia ini. Sebab itu
keberhasilan pelayanan Gereja tidak diukur dari berapa banyak keuangan,
asset atau fasilitas yang dimilikinya, tetapi dari pertumbuhan kualitas rohani dan kuantitas jemaat
yang berasal dari jiwa-jiwa terhilang yang berhasil dijangkaunya.
Contoh gereja yang sukses saat ini ada di China, meskipun mereka tidak
memiliki gedung gereja dan berbakti di hutan-hutan, gua-gua, dsb
sebagai “underground church”, tapi tiap hari ada 60,000 orang percaya
dan terima Yesus sebagai Juru Selamat.
Disamping menetapkan sasaran jiwa, Tuhan juga mengajarkan pola kerja
untuk mencapai sasaran tersebut, yaitu dengan “menjala” manusia. Dalam
Injil Matius 4:19 Yesus berkata kepada murid-muridNya: "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia." Jala sering diinterpretasikan sebagai net-work (jaringan
kerja)di antara sesama Tubuh Kristus yang terikat dan rapi
tersusundalam semua bagian pelayanannya (Efesus 4:16). Tuhan tidak
mengenal adanya “super star” atau “one man show” dalam Gereja karena
semua bagian anggota Tubuh Kristus harus terlibat dalam pelayanan
sesuai fungsinya masing-masing. Karena itu keberhasilan Gereja adalah
keberhasilan bersama dari seluruh JemaatNya karena dipimpin oleh
Kristus Sang Kepala Gereja.
Untuk menjalin net-work, kita harus mampu bekerja secara team-work. Prinsip dasar dalam team work adalah “sama-sama kerja supaya sama-sama ringan”. Dalam
kerja team work, tidak boleh ada yang merasa “superior” sebab tidak ada
anggota team yang dapat berfungsi tanpa ditopang oleh fungsi anggota
team lainnya. Team-work yang efektif selalu berorientasi pada hasil kerja
(end results ). Anggota team dapat bekerja dengan fleksibel sesuai
dengan waktu, talenta, dan gaya masing-masing namun tetap pada arah
sasaran yang telah ditetapkan. Team work yang demikian akan dinamis dan
produktif, pelayanan berjalan baik dan jiwa-jiwa dimenangkan !
Meskipun orientasinya pada hasil kerja, team-work yang efektif tidak
mengabaikan proses (cara kerja) dalam mencapai hasil
tersebut. Efektivitas dijaga dengan terus mengevaluasi proses yang
telah dilakukan sehingga dapat dilakukan perbaikan-perbaikan untuk
meningkatkan hasilnya. Untuk mengevaluasi efektivitas ini, kita semua
harus sepakat untuk tidak menunjuk “siapa yang salah”, karena hal ini
hanya akan melukai orang lain. Sebaiknya kita harus bertanya “apa yang
salah”, maka kita akan berusaha menemukan masalahnya dan sekaligus
memperbaikinya, dan meningkatkan apa yang sudah dianggap “baik”.
Ketika
masing-masing anggota team bekerja dan melakukan fungsinya, bisa saja
terjadi “pergesekan”. Pergesekan dalam kerja itu “sehat”, karena
menunjukkan adanya semangat untuk bertanggung jawab serta keinginan
untuk maju. Ibarat mobil yang berjalan maju dengan pesat, maka
pergesekan antara ban mobil dengan jalan dan udara yang dilaluinya juga
akan makin besar. Pergesekan menjadi “tidak sehat” bila motivasinya
ingin menjatuhkan orang lain demi kepentingan pribadi dan insecurity
(cemburu melihat keberhasilan orang lain karena dianggap sebagai
ancaman terhadap kenyamanan kedudukannya). Karena itu, saling
menghargai fungsi dan kerja orang lain akan membuat sukses kerja sama
kita bersifat jangka panjang.
Kerja sama atau net-working di antara sesama Tubuh Kristus adalah pola Alkitabiah yang sudah terbukti efektif
untuk melakukan Amanat Agung. Lewat net-working ini Gereja dihindarkan
dari kesombongan rohani dan disadarkan bahwa Tubuh Kristus itu saling
membutuhkan dan saling melengkapi. Net-working juga dapat menjadi alat
Tuhan untuk membangun karakter rendah hati dan kesatuan Gereja, karena kita dapat belajar dari keunggulan maupun kekurangan orang lain.
Kesatuan
adalah kata kunci dalam net-working. Kesatuan ibarat bahan bakar yang
menggerakkan masing-masing potensi Tubuh Kristus sehingga dapat saling
melengkapi. Segala bentuk pertikaian dan perpecahan dalam Gereja adalah
bukti keberhasilan roh pemecah untuk mengalihkan perhatian Gereja dari
pencapaian Amanat Agung yang mulia kepada pemuasan kedagingan yang
rendah.
Kalau Gereja ingin melakukan Amanat Agung, tidak
ada pola kerja yang lebih terpercaya dan efektif selain net-working,
baik di antara jemaat dalam satu organisasi Gereja maupun dengan
organisasi yang lain, karena pada hakekatnya semua Gereja adalah rekan sekerja Tuhan dalam memenangkan jiwa-jiwa terhilang.